Selasa, 17 September 2019 |
Jurnal Publik

'TUA DI TUI' Sebuah Pengantar Pertunjukan

Senin, 29 Juli 2019 14:25:36 wib
Wanda Rahmad Putra/Foto: Ist

JAMBIDAILY JURNAL - Sebagai sebuah pertunjukan pantomim, Tua di Tui berangkat dari kisah para pekerja di pertambangan kapur Bukik Tui, kota Padang Panjang. Pertunjukan ini disutradarai oleh Frisdo Ekardo dan akan ditampilkan pada event Temu Teater Se-Sumatera di Jambi pada tanggal, 3 Agustus 2019. Acaranya sendiri bertempat di gedung pertunjukan Taman Budaya Jambi dan akan dipentaskan pada pukul 20.45 WIB.

Pertunjukan pantomim Tua di Tui akan mengajak kita untuk melihat para spesies manusia yang sibuk dengan kerjanya, dan menghabiskan waktu dan tenaganya hanya untuk bekerja. 

Pertunjukan ini berupaya mengeksplorasi situasi eksistensial, sosial, bahkan kultural tentang kehidupan pekerja tambang Bukik Tui bernama Jang. Melalui tokoh Jang ini, yang merupakan simbol yang mewakili para pekerja, pertunjukan akan menuturkan kisah kehidupan seorang pekerja yang masa tuanya dihantui oleh ketidakmampuan menerjemahkan perubahan zaman. 

Jang mempunyai seorang anak dan istri. yang kedua-duanya mati secara tragis. Anaknya meninggal dunia akibat penyakit radang paru-paru dan istrinya meninggal ditimpa longsor bebatuan kapur. Dua orang yang dicintainya meninggal di tempat di mana dia bekerja.

Sebagai manusia yang sudah lama bekerja, mengalami sakit-sakitan, namun tak kuasa meninggalkan pekerjaannya, Jang tetap bertahan meskipun merasa asing akibat ketidakmampuannya memahami kemajuan zaman yang jauh berubah. Jang menjadi representasi dari manusia pekerja, yang apapun resikonya, tetap setia dalam kerjanya sampai akhir hayatnya. 

Lalu kenapa Jang sebagai manusia mau menghabiskan waktunya menantang resiko hanya demi bekerja? 

Sebelum menjawab itu, saya ajak teman-teman semua mengunjungi sebentar pertambangan kapur Bukik Tui yang berada di selatan kota Padang Panjang. Di sana kita akan dihadapkan pada potret manusia yang bekerja dari pagi hingga sore hari. Menyaksikan badan dan wajah dilumuri kapur berwarna putih. Kita akan melihat sosok pemuda, bapak-bapak, Ibu-Ibu, dan anak-anak yang setiap harinya menghisap partikel polutan yang tentunya sangat berbahaya bagi kesehatan. 

Proses tambang batu kapur dimulai dengan memecah batu besar menjadi bongkahan-bongkahan kecil, dilanjutkan dengan proses pembakaran yaitu menyusun batu yang sudah dipecah dengan cara melapisi batu kapur dengan batu bara sebagai alat pembakar.

Proses pembakaran ini dilakukan selama seminggu sebelum kemudian batu itu dikeluarkan dari tungku pembakaran untuk dikemas dan dikirim ke berbagai daerah, misalnya pabrik besi di Medan untuk diolah sebagai pasta gigi, cat tembok dan sebagainya.

Kegiatan penambangan ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu.  Awalnya dikelola secara tradisional oleh keluarga, hingga kemudian menjadi perusahaan dengan tumbuhnya pabrik-pabrik kecil di sekitar lokasi penambangan. Pabrik-pabrik kecil inilah yang nantinya terkoneksi dengan pabrik-pabrik yang lebih besar di luar kota Padang Panjang.

Aktifitas kerja penambangan, dari dulu hingga sekarang, dari tradisional hingga industri masih menggunakan tenaga manusia secara dominan. Kegiatan itu juga tidak dilengkapi fasilitas keamanan yang cukup atau mesin-mesin bertekhnologi memadai. Sebagian besar jenis kerja penambangan dilakukan hingga saat ini demi upah untuk pemenuhan kebutuhan hidup para pekerja. Inilah yang menjadi sumber inspirasi dalam upaya penggarapan pertunjukan pantomim yang diberi judul Tua di Tui. 

Pantomim dinilai ekfektif dalam mengkomunikasikan apa yang dialami pekerja. Pantomim yang sering dipahami sebagai pertunjukan bisu hanya karna ketidakmampuannya berkata-kata, ternyata memiliki watak yang unik dalam dirinya. Meskipun dijuluki pertunjukan bisu, tetapi pantomim mamiliki dimensi bahasa yang mampu menembus kebisuan itu hingga batas paling sunyi dari kehidupan.

Seni pantomim mampu menjadi media untuk menyampaikan situasi kongkret manusia yang bekerja di lereng Bukik Tui. Bentuk seni ini menjadi alat yang efektif dalam upaya menyampaikan visi artistik pengkarya karena format komunikasinya yang universal. Sehingga apapun tema dan konsep yang dibawakan akan mampu menembus bahkan melampaui sekat-sekat sosio-kultural di manapun manusia berada.

Lebih dari itu, ada alasan penting dan komprehensif lain yang ingin disampaikan sutradara melalui pertunjukan pantomin yang bertajuk Tua di Tui ini. Hal itu adalah situasi kongkret manusia sebagai makhluk yang bekerja. Manusia selalu bekerja, bahkan kapan dan di mana pun manusia selalu terjun dalam kesibukannya bekerja demi mencapai tujuan tertentu. Tujuannya bisa beragam, baik untuk kepentingan ekonomis, sosial, bahkan eksistensial sifatnya. 

Agaknya tidak terlalu berlebihan untuk mengatakan bahwa di setiap zaman, dari dulu hingga sekarang, bekerja menjadi bagian integral dalam kehidupan manusia yang sulit untuk dipisahkan.

Sepanjang sejarahnya, interaksi antar manusia telah melahirkan suatu diskursus yang kompleks tentang hakikat manusia sebagai makhluk pekerja. Diskursus itu berupaya merumuskan hakikat dari kerja manusia, sampai pada ancaman bagi hakikat kerja itu sendiri.

Harbert Marcuse salah satu pemikir kritis Mazhab Frankfurt pernah mengatakan bahwa esensi dari kerja manusia haruslah eksistensial sifatnya, sesuai passion, di mana manusia dalam kerjanya merasa ada dan mengada sebagai pribadi yang merdeka. Selain itu, Karl Marx, yang menghabiskan waktunya berfikir demi kelas pekerja, juga menegaskan bahwa kerja haruslah membuat manusia bahagia. Aktifitas kerja haruslah melampaui dari sekedar upaya pemenuhan kebutuhan hidup atau mencari sesuap nasi.

Pendapat dua pemikir di atas memberi sinyal bahwa kebebasan adalah esensi kerja manusia yang sesungguhnya. Sayangnya, dalam kenyataannya, kerja membuat manusia jauh dari kebebasan itu sendiri. Di zaman di mana raksasa kapitalis begitu menguasai corak produksi, aktifitas kerja telah dijadikan hanya sekedar instrumen,  momen, wilayah pengontrolan, dan penindasan, alih-alih sebagai sarana aktivitas pembebasan.

Raksasa kapitalis, sebagaimana yang telah sering diulas, tetap dan masih menjadi tuan besar yang mengeksploitasi manusia demi modal dan keuntungan dirinya. Tindakan eksploitasi dilanggengkan dengan proses alienasi dan perbudakan yang disempurnakan dengan cara pengupahan bagi para pekerja. 

Tampak sekilas bahwa tindakan pengupahan itu hal yang wajar dan memang sudah harus begitu. Tindakan pengupahan merupakan ungkapan nilai, imbalan dan penghargaan atas hak dan martabat para pekerja yang diberikan oleh para pemilik modal. Tapi apa yang luput dari penglihatan kita adalah bahwa hal itu justru berarti pemerasan, pemaksaan dan penghisapan. Ketentuan mengenai jumlah upah seringkali tidak melibatkan para pekerja. 

Aturan kerja yang dibuat pun seringkali tidak manusiawi. Para pekerja seharian penuh tenaga dan pikirannya dihisap. Hal-hal yang menyangkut persoalan itu juga hanya diputuskan secara sepihak oleh pemilik modal. Tak jarang bagi pekerja yang berupaya menuntut hak-haknya berakhir di PHK atau penjara. Di tengah ancaman menganggur dan PHK, para pekerja hanya menghibur diri sambil meyakinkan diri bahwa itu adalah keputusan yang adil. 

Lagi-lagi Marx memperingatkan bahwa manusia dalam kerjanya tidak bisa direduksi hanya sebagai uang. Harga dari rasionalitas, kebebasan, dan kompleksitas manusia tidak bisa hanya dikuantifikasi dengan sejumlah upah berupa lembaran dan kepingan uang. 

Jika itu terjadi, semisal pekerja tambang kapur Bukik Tui, atau pekerja di mana pun itu, jikalau orientasi kerja hanya demi uang, maka jadilah manusia itu sebagai suatu materi yang mekanis, yang hidup dalam keinginan untuk menghamba pada upah. Manusia bekerja, memperoleh upah, menghabiskan upahnya dengan konsumsi dan bekerja lagi untuk dapat mengonsumsi. Begitu seterusnya.

Bukankah ini adalah bentuk penghinaan dan pengkerdilan manusia oleh angka? Manusia dijadikan seperti robot yang siap bekerja demi sejumlah kertas yang dipercaya mampu membeli semua kebutuhannya.

Hal itu diperparah oleh kemajuan zaman yang membuat kerja manusia telah menjadi semakin kompleks. Teknologi ditemukan, industri berkembang pesat, alat-alat produksi mampu memproduksi secara massal. Akibatnya, kerja manusia semakin sistematis,  mekanis, dan tak jarang juga represif. Kerja manusia semakin jauh dari ensensi kebebasan, sebab kebebasan telah direnggut oleh sistem kerja yang menghendaki akumulasi kapital secara besar-besaran. Bukan hanya soal eksistensi para pekerja, buah dari sistem itu juga telah merampas ruang hidup di mana alam kemudian tercemar akibat limbah dari pabrik-pabrik, yang pada akhirnya juga mengancam alam dan kembali mengancam manusia yang hidup di alam.

Akhirnya kita paham bahwa kebebasan seolah menjadi poin penting bagi manusia dalam bekerja. Poin kebebasan itu mestinya juga menjadikan kerja sebagai usaha untuk berkarya dan mencipta buat manusia. Dengan modal akal dan kekuatan budi, manusia bekerja untuk membangun, lalu kemudian mencipta kebudayaannya sendiri untuk kebaikan manusia dan alam tempat di mana manusia hidup. Persis, itulah yang kita harapkan bagi para pekerja; tidak hanya di Bukik Tui, tapi di mana pun manusia pekerja berada.

Selamat menyaksikan....

 

...

(*) Penulis adalah Wanda Rahmad Putra, Mahasiswa Pascasarjana ISI Padang Panjang, Sekaligus sebagai Dramaturg, Pertunjukan 'Tua Di Tui' 

*isi/sumber/referensi dari Artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis.

 

 

 

Berita Terkait:
Teater B3MIME Menggugat 'Tua di Tui' di Panggung Temu Teater Se-Sumatera, Jambi

KOMENTAR DISQUS :

Top