Rabu, 19 Februari 2020 |
Ekonomi

Tiket Pesawat Dorong Inflasi Desember 2019 Sentuh 0,34 Persen

Kamis, 02 Januari 2020 11:53:44 wib
Harga makanan dan tiket pesawat dorong inflasi sentuh 0,34 persen pada Desember 2019. (CNN Indonesia/Galih Gumelar)

JAMBIDAILY EKONOMI - Badan Pusat Statistik (BPS )menyatakan Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan harga atau inflasi 0,34 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Desember 2019. Angka ini meningkat dari November 2019 sebesar 0,14 persen, namun lebih rendah dari Desember 2018 sebesar 0,62 persen.

Sementara inflasi secara tahun berjalan (year-to-date/ytd) sebesar 2,72 persen dan secara tahunan (year-on-year/yoy) mencapai 2,72 persen pada Desember 2019. Realisasi ini lebih rendah dari target tahunan pemerintah sebesar 3,5 persen di APBN 2019.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan inflasi terjadi karena kenaikan harga-harga di kelompok bagan makanan sebesar 0,78 persen. Kelompok ini memberi andil ke inflasi nasional sebesar 0,16 persen.

"Inflasi terjadi di harga telur ayam ras, bawang merah, ikan segar, dan beberapa sayuran, seperti beras, bayam, dan kacang panjang. Namun ada beberapa komoditas yang berandil deflasi, seperti cabai merah, cabai rawit, daging ayam ras," ungkap Suhariyanto di Kantor BPS, Senin (2/1). 

Kemudian, kelompok dengan inflasi tertinggi kedua merupakan transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,58 persen dengan andil 0,1 persen. Lalu, kelompok kesehatan mengalami inflasi 0,29K persen dengan andil 0,01 persen.

"Seperti yang sudah diduga karena ada Natal dan Tahun Baru ada inflasi dari tarif angkutan udara dengan andil 0,07 persen, tarif kereta api dengan andil 0,02 persen, dan andil tarif antarkota 0,01 persen," jelasnya.

Selanjutnya, inflasi kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,29 persen dengan andil 0,05 persen. "Rokok kretek, rokok filter, dan rokok filter putih, meski kenaikan harga baru terjadi pada awal tahun ini, tapi sudah member andil inflasi," katanya.

Sementara kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar mengalami inflasi sebesar 0,09 persen dengan andil 0,02 persen. Lalu, kelompok sandang sebesar 0,05 persen dengan andil 0 persen.

"Tapi di sandang ada emas dan perhiasan mengalami penurunan harga, sehingga memberi andil ke inflasi," ucapnya.

Sedangkan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga menjadi satu-satunya kelompok yang mengalami deflasi sebesar 0,05 persen dengan andil 0 persen.

Berdasarkan komponennya, inflasi terjadi berkat sumbangan dari kelompok harga bergejolak (volatile foods) sebesar 0,16 persen dengan inflasi mencapai 0,86 persen. Kemudian juga disumbang oleh harga yang diatur pemerintah (administered price) sebesar 0,12 persen dengan inflasi mencapai 0,63 persen.

Sementara inflasi inti hanya memberi sumbangan 0,06 persen dengan inflasi 0,11 persen. Berdasarkan wilayah, dari 82 kota IHK, inflasi terjadi di 72 kota. Sementara 10 kota lainnya mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Batam sebesar 1,28 persen dan terendah di Watampone 0,01 persen. Sedangkan deflasi tertinggi di Manado sebesar 1,88 persen dan terendah di Bukit Tinggi dan Singkawang 0,01 persen.

"Inflasi Batam tinggi karena harga beberapa sayuran, seperti cabai dan juga tarif angkutan udara karena ada Natal dan Tahun Baru," tuturnya.

 

(uli/agt)/cnnindonesia.com

KOMENTAR DISQUS :

Top