Selasa, 17 September 2019 |
Wisata & Budaya

Sentilan Lembut 'Kakitau' dari Teater Tonggak Tutup Temu Teater Se-Sumatera

Senin, 05 Agustus 2019 17:32:51 wib
Foto: Hendry Noesae/Jambidaily.com

JAMBIDAILY SENI, Budaya - Minggu (4/08/2019) malam, Teater Tonggak sebagai tuan rumah menjadi peserta pamungkas dalam hajatan Temu Teater Se-Sumatera, 2-4 Agustus 2019 di Gedung Teater Arena Taman Budaya Jambi (TBJ) yang menyanyikan pergelaran berjudul 'Kakitau' Karya dan Sutradara Didin Sirojudin, S.Sn.

Kakitau adalah sebutan lain untuk orang-orangan sawah yang biasanya digunakan oleh masyarakat kabupaten bungo provinsi Jambi. Dalam pergelaran kakitau menggambarkan Ketika lahan sawah masih luas kerja kakitau sangat banyak. Ia bekerja siang dan malam untuk menjaga padi di sawah, ia bekerja dengan cara menakut-nakutin burung yang akan hinggap di tangkai-tangkai padi. Tetapi ketika sawah mulai menyempit, maka tugas kakitau tinggal sedikit. Karena burung-burung pun pergi entah kemana mencari sumber-sumber makanan. Ketika lahan sawah sudah tiada, karena habis oleh gedung-gedung pencakar langit, maka kakitau tidak berguna lagi, ia jadi sampah yang berserak.

Kolaborasi pertunjukan dengan Tari, Musik dan Multimedia tersebut menyuguhkan sajian apik nan atraktik kepada lebih dari 600 penonton yang memenuhi Gedung Teater Arena TBJ. Tetapi, menariknya penonton juga sempat dibuat tertawa dengan sentilan manis bahwa kakitau kini tidak lagi bekerja dan lebih memilih menjadi manusia sebab akan mendapat gaji dari Kartu Pra Kerja.

Hal itu realita kekinian yang diboyong ke atas panggung pertunjukan oleh Teater Tonggak sebagai bentuk pengingat bagi penguasa akan sempitnya lahan pertanian dan berubah fungsi pada perkebunan-perkebunan besar. Efek panjang dari peristiwa tersebut digambarkan sutradara melalui multimedia raksasa seperti apa keserakahan yang pada akhirnya dapat menimbulkan bencana.

Simbol-simbol dihadirkan lewat layangan berbentuk burung, Topi Capin, Tampah atau alat menampi beras yang berada dalam adegan-adegan dan memiliki makna tersendiri. Seperti adanya seorang nenek yang sedang mencari anaknya agar kembali pulang, merupakan pesan untuk manusia, ingat akan tugasnya di Muka Bumi.

Pemilik karya sekaligus Sutradara yang biasa dikenal dengan nama Didin Siroz, turut hadir sebagai pelaku di Kakitau, Paridah sebagai nenek, Salira Ayatu Syifa sebagai Ibu Bumi dan tokoh lainnya, juga didukung oleh Ichalago sebagai penata gerak, Azhar MJ sebagai Penata Musik.

Sebelumnya, Mahasiswa Prodi Seni Teater ISBI provinsi Aceh dalam karya berjudul 'Nomophobia' yang melibatkan penonton secara langsung. Nomophobia merajalela dan marak, Menggema antara tawa, marah dan isak, realitapun telah rusak, kepedulian sedang di uji, Rasa empati tidak lagi di hati, namun pada jari-jari latah bergaya 'selfie'. Manusia-manusia kota telah tercipta, terindividu pada khayalan kelabu. Dunia telah menjadi maya, Bisu dalam Pikiran Membatu.

Tidak hanya Jambi dan Aceh, dihari penutup Temu Teater Se-Sumatera 2019, juga hadirkan 'Kisah-kisah Tembikar' dari Teater Rumah Mata, asal Medan-Sumatera Utara.

 

(Hendry Noesae)

 

 

Berita Terkait:

KOMENTAR DISQUS :

Top