Kamis, 20 Juni 2019 |
Jurnal Publik

Segelas Es Tebu didepan Patung Sultan Thaha Syaifuddin

Senin, 02 Oktober 2017 09:15:44 wib

KOPI RAINA  - “Saya terima nikahnya Fulana binti Fulan dengan Mas Kawin seperangkat Alat sholat” kalimat tersebut ialah Ijab Kabul yang diucapkan dalam pernikahan Islam. Pengucapan Ijab Kabul menurut saya adalah bagian paling sakral saat Pria akan mempersunting Wanita yang akan dijadikan istri dan menjalani hari serta waktu bersama-sama dalam biduk rumah tangga nantinya.

Ijab Kabul berdasarkan kamus besar Bahasa Indonesia Versi Online/Dalam Jaringan (Diakses, Minggu 01/10/17 sekira Pukul: 21.06 Wib), yaitu: ijab adalah 1 ucapan tanda penyerahan dari pihak yang menyerahkan dalam suatu perjanjian (kontrak, jual beli); 2 kata-kata yang diucapkan oleh wali mempelai perempuan pada waktu menikahkan mempelai perempuan kalau kabul adalah 1 jual beli; kontrak-mengontrak; 2 akad nikah.

Selain itu Pengertian Bacaan Ijab Kabul Di Ajaran Islam (dikutip melalui laman rukun-islam.com, diakses, Minggu 01/10/17 sekira pukul: 21.10 Wib) Pengertian Ijab Kabul di dalam Ajaran Agama Islam ialah ucapan dari pihak mempelai wanita yang diwakili oleh orang tua ataupun wali untuk menikahkan putrinya kepada calon mempelai laki-laki. Bacaan Ijab Kabul bisa diartikan merupakan salah satu cara dari pihak orang tua wanita untuk melepaskan putrinya untuk dinikahkan oleh pihak Pria dan pihak Si Pria menerima mempelai Wanita dalam Ucapan Ijab Kabul tersebut.

Adapun untuk pentingnya Kalimat Ijab Kabul Pernikahan menurut Hadist Shahih yang diriwayatkan oleh Muslim yang berbunyi ”Sangat berat pengorbanan para suami terhadapmu karena saat mengucapkan ijab kabul Arsy-NYA berguncang akibat beratnya perjanjian yang telah dibuat olehnya dihadapan Allah SWT dengan disaksikan pula oleh para Malaikat dan Manusia. Sedangkan jika para Istri menghisap darah dan nanah dari hidung Suamimu maka itu belum cukup untuk menebus semua pengorbanan suami terhadapmu ”.

Melihat Hadist Shahih diatas maka anda sebagai seorang Istri harus benar-benar menurut dan berusaha supaya menjadi Istri yang Sholehah bagi Suaminya karena jika proses pengucapan Lafadz Ijab Kabul saat menikah selesai diucapkan maka anda dan suami anda sudah Sah menjadi seorang Suami Istri. 

Tata Cara Membaca Teks Ijab Kabul Pernikahan sebaiknya dilakukan dengan diawali membaca Bismillah dan membaca Istighfar 3 kali, tujuan supaya kita tidak panik dan santai dalam membaca Kalimat Ijab Kabul Nikah. Kemudian untuk Syarat Ijab Kabul Pernikahan sendiri antara lain Diucapkan oleh wakilnya atau walinya, tidak diikatkan dengan tempo waktu, tidak menggunakan perkataan sindiran (Syarat Ijab) sedangkan untuk Syarat Kabul tidak boleh secara taktik, dan tiada perkataan sindiran.
 
“Ayah, Raina mau duduk di kursi itu,” kata Raina menunjuk jejeran kursi Taman yang berada di salah satu sudut dalam kompleks Taman Budaya Jambi, tempat dimana saya banyak belajar akan hidup, saya pun menggangguk sambil berpikir mengapa Raina menunjuk ke kursi itu ya,? “Dulu bunda sering main disini Raina,” Jawab Istri saya dengan santai, membuat saya tersenyum sembari berujar “iya, dulu ayah sama bunda juga pacaran disini,” kata itu disambut tawa dari istri saya. “iiiiii...bunda sama ayah kok pacaran, itu tidak boleh,” kalimat polos meluncur dari Raina (bagian kalimat ini terbersit di hati saya, kami dulu pacarannya bukan kayak anak alay, boncengan di motor saja jauh-jauhan).

Kalimat itu selalu kami dengungkan ke Raina karena sebegitu besarnya pengaruh Sinetron yang ter'kandang' dia tonton selain Film-film Animasi atau kartun yang ada di Televisi, tetapi tidak hanya Sinetron. Toh, Animasi yang umurnya lebih Tua dari saya seperti Doraemon malah adanya cerita pacaran, contoh yang paling dekat “Stand By Me” itu salah satu masih banyak lagi yang lainnya, pertanyaan besar film Animasi itu untuk siapa, Anak-anak atau Dewasa,? Kemasan sudah sangat jelas dan sangat anak-anak, namun cerita tidak untuk mereka, dimana pengawasan yang sebenarnya untuk setiap hal tayangan Televisi di Indonesia,? Itu suara saya selaku orang tua ya...

Kembali ke jejeran kursi di Taman Budaya Jambi tadi, dengan sinar matahari yang redup teriring sepoi angin sore membuat saya seolah Dejavu dengan suasana ketika duduk disitu, tetapi di satu sisi serasa bernostalgia akan kenangan kami 10 tahun yang lalu. Bagaimana tidak,? curi pandang, saling memberikan getaran yang terasa di Hati, namun diam seribu kata dipermukaan. Ada kata Keluarga di dalam Sanggar Seni yang kami tekuni bersama yaitu Teater Tonggak agar tetap kompak, solid dan jauh dari aroma-aroma urusan pribadi bukan berarti “diharamkan” antar anggota untuk menjalin kasih.

Kami berdua saling sepakat untuk menjaga rahasia berpacaran agar tidak diketahui siapapun dalam sanggar, bahkan dengan keluarga serta teman-teman terdekat pun kami sembunyikan. Untuk di sanggar, kami punya seorang Ibu, dia istri dari Pelatih yang sudah layaknya orang tua bagi saya, walaupun tidak tersemat kata “Ibu” atau “Emak” karena pilihan kata “Teteh” menjadi sapaan akrab untuk dia bagi anak-anak sanggar, dia memiliki sikap dan pemberi saran serta berada di tampat seorang Ibu.

Teteh merupakan pembaca Non Verbal yang luar biasa menurut saya, jika ada hubungan khusus di sesama anak sanggar dia selalu tepat membacanya, termasuk hubungan kami berdua. Hanya dalam satu tahun kalau tidak salah saya, Teteh sudah merasakan adanya cerita hati diantara kami. Wahh, ketahuan nih, hehehe...walaupun begitu kami masih terus menjaga seakan-akan dunia tetap tidak mengetahuinya (tidak mirip drama korea kok, di masa itu masih sangat asing yang berbau korea tonton kami palingan Ada Apa Dengan Cinta, kami cinta produk dalam negeri Lho).

Ada kerinduan saya akan tempat dimana saya belajar berteater, bukan hanya sekedar berteater di panggung saja tetapi makna hidup, rasanya menjadi pengetahuan luar biasa karena dapat meraba 1001 wajah manusia atau memerankan lakon milik orang lain, jauh dari watak, karakter dan sifat saya. Namun roda-roda dan pergeseran peran dalam kehidupan nyata menjadikan panggung itu jauh dari pikiran, dulu masih dalam nuansa pelajar lalu menjadi Mahasiswa sehingga tidak ada kata lain selain untuk memenuhi isi kepala dengan wawasan, kemudian pada gilirannya saya menikah terus mempunyai Anak, Lakon di kehidupan nyata menuntut saya untuk mahir menguasai kapal ditengah terpaan Gelombang membuat panggung itu terasa jauh.

“Ayah, kita Pulang yuk, Raina mau pulang,” Begitu kata Raina yang menyudahi lamunan saya akan kenangan saya dan istri di masa berpacaran yang pernah dilewati dan kerinduan panggung, Eittz untuk Panggung masih terus dijaga rindunya, hehehe...

Kami pun beranjak pergi meninggalkan Taman Budaya Jambi, Bertiga kami menikmati jalan-jalan yang ramai karena Hari Minggu kali ya, bisa jadi benar (Bukan maksa tapi memang begitu adanya), Istri saya berkata “Ayah kita ke Telanai Yuk,” (maksudnya ke Komplek perkantoran Gubernur Jambi, yang biasanya kalau sore tidak pernah sepi) saya pun mengarahkan Mobil kami menuju tempat yang dimaksud (orang lain mungkin melihatnya adalah motor Matic bermerek Honda Beat, tapi bagi kami bertiga ini memiliki Rasa seperti Honda Jazz, hehehe...).

Sesampainya disana karena lumayan gerah walaupun Matahari tidak terik, Kami menikmati Es Tebu yang ada tepat di depan Patung Sultan Thaha Syaifuddin bersebelahan dengan Air Mancur berlatarkan megahnya Gedung kantor Gubernur Jambi. Lagi-lagi saya merasakan kenangan yang lalu, dimana kami berdua juga lumayan sering duduk di lokasi ini, Cuma sekedar menikmati sepiring Sate Padang dan segelas Es Tebu (bukan karena murah tapi kami lebih nyaman, Sssst...sebenarnya tidak punya uang juga kalau nongkrong di Mall). “Ayah itu patung apa,?” Tanya raina, “itu patung Sultan Thaha Saifuddin, dia pahlawan,” Jawab saya, Raina hanya mengangguk lalu bermain Ala Raina, Ala Anak-anak menikmati masa-masa seusianya.

Beberapa waktu kemudian terlihat seorang lelaki muda dengan perawakan khas anak muda, dia adalah Fadli anak Fachrudin Razi Rektor Universitas Batanghari, saat melihat ke arah saya, kami pun saling tersenyum dan dia mendekat lantas kami ngobrol bersama (kami udah kenal sebelumnya), begitu banyak obrolan mulai dari Olahraga Otomotif, Nonton Film G30S/PKI, Berita-berita terhangat hingga Politik, naahhh saat tiba di Politik, saya seakan hilang selera untuk berdiskusi, entah mengapa saya juga tidak paham (Maaf ya...Tuan dan nyonya jika anda orang politik karena selera saya bukan disana).

Saya hanya menjawab beberapa cerita saja karena untuk politik saya benar-benar malas, saya malah sering menoleh kearah Raina yang sedang bermain didampingi istri saya, permainan yang tidak mahal, tidak juga ada di Mall-mall besar, Raina hanya main pancing-pancingan (memancing di tempat semacam kolam kecil dari karet dengan Ikan mainan) yang hanya membayar 5 ribu rupiah boleh bermain sepuasnya.

Wahh...ada bagian yang hampir terlupakan, mungkin ini efek belum minum kopi seduhan sang Istri, kedatangan kami ke Taman Budaya Jambi di hari Minggu (01/10/17) ini menghadiri Undangan Resepsi dari Teman istri saya di masa SMA, Andi Nopiardi,SE dan Musdalifah,SE (Andi & Lily) di Gedung Prosenium Taman Budaya Jambi, dan Akad Nikah sudah dilangsungkan pada, Jum’at 29 September 2017.

Senyum ceria dari Andi & Lily sangat memberikan pesona sang Raja dan Ratu yang mereka sandang untuk sehari, Para tamu undangan menyaksikan moment manis bagi pasangan ini dan kini pasangan tersebut menuju peran yang baru dalam kehidupan. Berperan sebagai Suami Istri, berikutnya juga tentu Seorang Bapak Ibu, Selamat menempuh Hidup baru ya..., Selamat mendapatkan peran yang baru. Lah kok, jadi cerita Andy & Lily,? Iya ucapan dan do’a untuk pasangan ini tentu tidak ada salahnya. 

Kamu Kapan Nikah,? Upzz keceplosan, jangan marah, jangan jadi badmood, jangan dibanting juga Handphone atau Laptopnya, atau malah melaporkan saya ke Polisi dijerat Kasus “perbuatan tidak menyenangkan” Semangat terus, tenang jodoh itu akan datang sesuai dengan waktunya. Cepat Tua Lho kalau marah-marah...

Salam Santun Saya dan Istri, Niki Dwi Oktaviani, untuk Didin Siroz dan Istrinya latifah Siroz. Semoga bermanfaat, Salam Kopi Raina,!
 

 

Penulis: Hendry Noesae

**Chatting Via Whatsapp Suaro Wargo jambidaily.com, Bergabung Klik Tautan ini: Whatsaap Group, Galery jambidailyDOTcom

 
 
 
 
Kopi Raina, Lainnya:

KOMENTAR DISQUS :

Top