Sabtu, 14 Desember 2019 |
Hukum

Pembakaran Lahan Dilakukan Sistematis, BRG Bantu Satgas Padamkan Api

Senin, 12 Agustus 2019 09:57:42 wib
Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead, Saat Tinjau Karhutla di Desa Sipin Teluk Duren, Arang-arang Kec. Kumpeh Ulu Kab.Muaro Jambi/Foto: Hendry Noesae/Jambidaily.com

JAMBIDAILY PEKANBARU - Maraknya kebakaran lahan yang terjadi belakangan ini di berbagai provinsi disebabkan masih berlangsungnya proses pembakaran lahan skala besar. Yang disayangkan, ungkap Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead, kegiatan pembakaran lahan tersebut dilakukan secara sistematis oleh sejumlah pihak. Hal ini diungkapkannya kembali usai melakukan kegiatan lapangan untuk membantu pemadaman api di wilayah Riau, Sabtu (10/8). 

Nazir mencontohkan kebakaran lahan yang terjadi di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau belakangan ini. Berdasarkan laporan dari Kepala BPBD Riau yang melakukan patroli udara bersama Deputi BRG pada hari Jumat (9/8), pembakaran tersebut dilakukan secara sistematis. “Apabila ini terus berlangsung, maka makin sulit menghilangkan kabut asap. Kita harap ada penyelidikan lebih lanjut dari aparat hukum. Polda Riau telah bergerak cepat mengungkap pembakaran sistematis serupa di Pelalawan, yang disaksikan Gubernur ketika patroli udara minggu lalu, dengan penetapan sejumlah tersangka termasuk satu perusahaan perkebunan, kita patut apresiasi tindakan tegas ini.” ujarnya. 

Terkait kebakaran lahan di Kampar, Riau, Nazir menyaksikan kerja MPA binaan Manggala Agni, personel Dinas LHK Riau, TNI dan Polri melakukan pemadaman. Sumber air dari kanal masih ada walau tidak melimpah. Diperlukan sumur bor dibangun di tempat dimana air dari kanal sudah terlalu jauh untuk mencapai api. 

Beruntung, tambah Nazir, anggota kelompok masyarakat (pokmas) setempat sudah difasilitasi BRG dan Pemprov untuk membuat sumur bor. Dibutuhkan 3-4 jam untuk mencapai air tanah di kedalaman 20 m. Dengan air yang cukup berlimpah dari sumur dan bisa dipompa utk memadamkan hingga radius 200 meter, dan sumur bor kedua akan dibuat 200 meter dari sumur pertama sehingga api bisa terkepung. "Saya menyaksikan semprotan air masih sangat kuat di jarak 180 m dari sumur, dan pembasahan gambut dapat berjalan dengan cukup efektif," ungkapnya. 

Khusus untuk wilayah Tapung, Kampar yang sedang dikunjunginya, Nazir mengungkapkan akan membangun 50 sumur bor untuk mengantisipasi kebakaran ke depan. Sebagian wilayah tersebut berupa semak belukar, nantinya akan dikelola masyarakat menjadi kebun nanas. “Sehingga masyarakat bisa menjaga area tersebut dan mencegah kebakaran di saat kemarau,” pungkasnya.

Tentang Badan Restorasi Gambut
Badan Restorasi Gambut Republik Indonesia (BRG) adalah lembaga nonstruktural yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden Republik Indonesia. BRG dibentuk pada 6 Januari 2016, melalui Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2016 tentang Badan Restorasi Gambut. BRG bekerja secara khusus, sistematis, terarah, terpadu dan menyeluruh untuk mempercepat pemulihan dan pengembalian fungsi hidrologis gambut yang rusak terutama akibat kebakaran dan pengeringan dengan daerah kerja adalah Provinsi Riau, Provinsi Jambi, Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Kalimantan Barat, Provinsi Kalimantan Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan dan Provinsi Papua.

 


Sumber: Rilis

KOMENTAR DISQUS :

Top