Selasa, 17 September 2019 |
Nasional

Napak Tilas Jejak Proklamasi: Kemayoran hingga Rengasdengklok

Sabtu, 17 Agustus 2019 13:20:08 wib
Sukarno saat berpidato di hadapan sekitar 200.000 orang di Makassar menuntut kemerdekaan Indonesia dari Belanda. (AFP PHOTO)

JAMBIDAILY NASIONAL -  Proklamasi kemerdekaan RI yang dibacakan pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB tak dilaksanakan begitu saja. Banyak hal yang terjadi sebelum barisan kalimat proklamasi RI dibacakan Sukarno di teras rumahnya tersebut, Jalan Pegangsaan Timur 56 (sekarang area Monumen Proklamasi), Jakarta Pusat.

Bermula dari kegelisahan tokoh pemuda setelah mengetahui Jepang telah kalah dalam Perang Dunia II, mereka mendesak Sukarno dan tokoh nasional lain yang tengah menyusun rencana kemerdekaan untuk menyegerakan proklamasi. Para darah muda yang tak ingin proklamasi Indonesia sebagai 'hadiah' dari Jepang itu pun mengasingkan Sukarno dan Muhammad Hatta ke Rengasdengklok, Karawang, agar berubah pikiran untuk mau menyegerakan proklamasi. Peristiwa membawa Sukarno-Hatta keluar Jakarta itu kemudian dikenal dalam sejarah sebagai 'Penculikan ke Rengasdengklok.

Akhirnya, sampai juga pada masa yang bersejarah saat perumusan naskah proklamasi dan pembacaannya di Jakarta Pusat. Namun, apakah Anda tahu sejumlah tempat yang menjadi saksi bisu perjuangan proklamasi kemerdekaan RI secara de facto itu bukan sebagai hadiah dari Jepang. Berikut CNNIndonesia.com rangkumkan untuk Anda, meskipun beberapa tempat sudah tak sesuai dengan kondisinya pada 1945 silam.

1. Bandara Kemayoran

Chairul Saleh dkk menunggu di Kebun Pisang dekat Bandara Kemayoran, Jakarta Pusat. Mereka menunggu untuk menemui langsung Sukarno-Hatta yang baru tiba dari Saigon, Vietnam setelah bertemu Jenderal Jepang Hisaichi Terauchi, 14 Juli 1945 petang.

'Selamat datang kembali Bung Karno, Bung Hatta. Kami semua menunggu oleh-oleh yang Bung bawa dari Saigon,' ujar Chairul seperti diriwayatkan AM Hanafi dalam Menteng 31: Markas Pemuda Revolusioner Angkatan 45: Membangun Jembatan Dua Angkatan (1996).

Dalam kesempatan itu Chairul menegaskan kepada Sukarno agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa menunggu lama lagi karena Jepang sudah kalah dalam Perang Pasifik. Namun, Bung Karno hanya menjawab sepintas tak ingin membicarakan hal tersebut di kawasan lapangan terbang tersebut. Ia dan Bung Hatta lalu pergi begitu saja.

Kini, 74 tahun berlalu, Bandara Kemayoran tak lagi beroperasi. Lahan seluas 454 hektare itu sementara ini dikelola Badan Layanan Umum Pusat Pengelolaan Komplek Kemayoran (PPKK). Perkebunan pisang yang dulu menjadi tempat Chairul dkk menunggu Sukarno-Hatta pun sudah lama hilang terkena deru pembangunan selama 74 tahun Indonesia merdeka.

Setelah Bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Bandara Kemayoran menjadi tonggak perusahaan kebandarudaraan komersial nasional. Di titik inilah, pengelola bandara Indonesia, Angkasa Pura, lahir pada awal dekade 1960an.

Dikisahkan, setelah kembali dari Amerika Serikat, Presiden Sukarno meminta menterinya agar lapangan terbang di Indonesia bisa setara dengan negara maju lain di dunia. Maka, pada 1962 diterbitkanlah peraturan pemerintah yang menjadi dasar pendirian Perusahaan Negara Angkasa Pura Kemayoran.

'Setelah melalui masa transisi selama dua tahun, terhitung sejak 20 Februari 1964 PN Angkasa Pura Kemayoran resmi mengambil alih secara penuh aset dan operasional Pelabuhan Udara Kemayoran Jakarta dari Pemerintah RI,' demikian dikutip dari situs PT Angkasa Pura I.

Kini, bandara itu tinggal kenangan setelah berhenti beroperasi pada 1 Juni 1984. Lokasi itu sendiri telah dijadikan menjadi cagar budaya berdasarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 495 tahun 1993.

Sisanya yang masih tampak hingga kini adalah dua landasan pacu yang kini beralih fungsi jadi jalan raya (Jl Benyamin Sueb dan HBR Motik), sisa perkantoran dan hanggar, serta gedung menara kontrol lalu lintas udara (ATC).

Saat CNNIndonesia.com berkunjung ke sana pada awal Agustus ini, cat yang menutupi menara ATC yang dibangun pada 1938 itu terpulas cat warna merah dan putih. Berbeda dengan gedung bekas Bandara Kemayoran yang tampak dari kejauhan berwarna putih, namun catnya mulai terkelupas dan kecokelatan. Pintu menuju menara tak dapat diakses umum, dan ditutupi pagar berwarna putih, serta dijaga petugas.

"Enggak bisa masuk sembarang orang pak, harus minta izin PPKK dulu, kirim surat minta izin," ujar Cahya, petugas keamanan menara tersebut perihal tak dibuka umumnya menara tersebut, Kamis (8/8).

Beberapa tahun lalu sempat muncul gagasan agar bekas bandara itu dijadikan museum yang terbuka bagi umum. Pada 2016 silam PT AP I pun menggelar pertemuan soal rencana itu. Namun, hingga saat ini rencana itu belum juga terwujud di atas lahan milik Sekretariat Negara tersebut.

Gedung eks Terminal Bandara Internasional yang berlokasi di bidang tanah sisi timur Jalan Angkasa saat ini berseberangan dengan Mall Mega Kemayoran, membuat suasana wilayah tersebut ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang sepanjang jalan. Sementara itu, ATC berada di Jalan Radar, yang berjarak sekitar 1,3 kilometer dari luar pagar eks Bandara Kemayoran.

Bekas lahan parkir kendaraan di bagian belakang gedung eks bandara masih bisa terlihat dari sela sela pagar besi yang mengelilingi bangunan tersebut. Terdapat juga pos jaga yang kosong pada bagian depan gedung, serta beberapa puing-puing bangunan yang tergeletak di beberapa sisi gedung tua tersebut.

Pada bagian luar kawasan gedung eks bandara, beberapa pedagang makanan dan minuman kaki lima terlihat berjejer di atas trotoar jalan, hanya terhalang pagar besi dari gedung.

Jejak Bandara Kemayoran ini pun bisa ditemukan warga sedunia lewat dongeng bergambar alias komik karya Herge dari Belgia, Tintin. Pada episode TIntin bertajuk Flight 714 to Sydney, Herge menggambarkan petualangan Tintin dan sahabatnya Kapten Haddock, Profesor Calculus, dan anjingnya Snowy yang pernah singgah di bandara tersebut.

Kisah Bandara Kemayoran sendiri baru hadir sekitar lima tahun sebelum kemerdekaan, saat Belanda masih menguasai Indonesia sebelum diambil alih Jepang pada 1942. Pada 6 Juli 1940, pesawat DC-3 milik maskapai Belanda, KNILM, menjadi yang pertama mendarat di bandara tersebut. Dua hari kemudian, Belanda pun meresmikan bandara yang telah dibangunnya sejak satu dekade sebelumnya.

2. Pertemuan Eijkmann Institute

Setelah mendapatkan jawaban tak memuaskan dari Sukarno-Hatta soal usulan proklamasi kemerdekaan, pada 14 Agustus 1945 malam sekitar pukul 20.00 para pemuda lalu berkumpul di sebuah ruangan belakang Laborotarium Eijkmann Institute, Jalan Pegangsaan Timur nomor 17, Jakarta pusat kala itu.

"Ketika malam itu ada pertemuan mahasiswa pemuda itu di kebon jarak di belakang Pegangsaan tuh ada [gedung] kedokteran, ada di situ bagian pabrik health dan bakteriologi, di belakang ada kebon untuk penelitian, cukup besar kira-kira bersebelahan dengan asrama mahasiswa kedokteran," ujar Sejarawan Rushdy Hoesein saat disambangi CNNIndonesia.com, Selasa (13/8) malam.

Kini, Laboratorium Bakteriologi Eijkmann Institute yang menjadi titik pertemuan itu telah menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Bagian Mikrobiologi. Namun, ada perubahan pada alamatnya menjadi Jalan Pegangsaan Timur nomor 16, sementara nomor 17 menjadi kampus Universitas Bung Karno (UBK).

'Pertemuan ini dipimpin oleh Chairul Saleh. Pembicaraan-pembicaraan yang dirundingkan ialah: Bagaimana sikap yang akan diambil menghadapi situasi ketika itu dan bagaimana caranya supaya rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya di luar segala bentuk dan semangat Kemerdekaan Hadiah dan bagaimana sikap terhadap Sukarno-Hatta,' tulis Adam Malik dalam Riwayat Proklamasi 17 Agustus (1956).

Dari pertemuan itu diputuskanlah para pemuda akan mencoba melobi kembali Sukarno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan, tak perlu menunggu persetujuan atau penyerahan dari Jepang. Akhirnya, diputuskan mengirim Wikana dan Darwis untuk segera menyampaikan hal itu sekali lagi ke Sukarno di rumahnya, Jalan Pegangsaan nomor 56.

Sementara itu, Djohar Nur diperintahkan menyusun persiapan-persiapan pelajar yang ada di asramanya, Asrama Badan Permusyawaratan Pelajar-Pelajar Indonesia (Baperpi) yang berada di Cikini 71. Djohar Nur, tulis Adam Malik, dikenal sebagai pemimpin Persatuan Mahasiswa, dan wakilnya adalah Sajoko dan Sjarif Taib.

'Selanjutnya ditetapkan akan berunding sekali lagi selengkap-lengkapnya di Cikini 71 mendengarkan perslah pertemuan ketiga wakil itu, dan dari perslah yang akan ditunggu itulah nantinya, diambil putusan dan rencana apa yang akan dijalankan,' ujar Adam Malik.

Kembali ke titik di bekas Eijkmann Institute, saat CNNIndonesia.com menyambanginya sekitar awal bulan ini tak terlihat ada tanda maupun penanda yang sengaja dibuat untuk menunjukkan secara tepat mengenai lokasi pertemuan para Chairul, Wikana dkk di lokasi tersebut pada 1945. Tak hanya itu, beberapa staf kampus yang ditemui pun mengaku tidak mengetahui sejarah dari bangunan tersebut.

"Memang disini itu laboratorium mikrobiologi, cuma saya sendiri enggak tau kalau ada sejarahnya rapat pemuda. Enggak pernah ada monumen atau dengar info itu," ujar salah satu staf Fakultas Kedokteran UI Bagian Mikrobiologi yang enggan namanya disebut.

 

Rapat Pemuda di Cikini Hingga Rumah di Rengasdengklok

3. Keputusan Mengamankan Sukarno-Hatta dalam Rapat di Asrama Baperpi

Utusan pemuda dari pertemuan di Eijkmann Institute untuk mendesak kembali Sukarno di rumahnya gagal pada 15 Agustus 1945 malam. Walhasil, dalam pertemuan yang telah ditetapkan di Asrama Baperpi, Jalan CIkini 71, Jakarta Pusat disepakatilah para pemuda akan menyingkirkan dahulu Sukarno-Hatta dari Jakarta. Adam Malik menuliskan pertemuan tersebut berlangsung di ruang terbuka pada bagian belakang (zaal) di Cikini 71.

'Kira-kira jam 12 Malam lewat sedikit, pertemuan itu pun dibuka oleh Chairul Saleh, tak lama kemudian utusan yang menghadap Sukarno-Hatta menyampaikan perslah pertemuan mereka,' tulis Adam Malik dalam Riwayat Proklamasi 17 Agustus.

Sebelum pertemuan mengambil putusan, datang Sukarni dan Jusuf Kunto yang ikut memberikan pandangan masing-masing. Lalu disepakati secara mufakat bahwa kemerdekaan harus diproklamasikan sendiri, tidak menunggu dari Jepang, juga untuk membawa Sukarno-Hatta menyingkir dulu keluar kota.

Kemudian, lewat diskusi kecil antara Chairul Saleh, Sukarni, J Kunto, Dr Muwardi, dan Singgih (PETA) disepakatilah untuk membawa Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok, Karawang.

CNNIndonesia.com mengunjungi kembali lokasi yang menjadi titik pertemuan yang menyepakati untuk ‘menculik’ Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok. Berdasarkan keterangan dari Sejarawan Rushdy Hoesein, Cikini 71 itu saat ini menjadi bangunan kantor sebuah bank.

"Dulu di sana itu asrama mahasiswa di situ ada yang lebih senior, sedangkan Chairul Saleh ini kan generasi muda," kata Rushdy.

Namun, saat menuju ke lokasi yang beralamat di Jalan Cikini Raya nomor 71, Jakarta Pusat yang didapati adalah sebuah bangunan disertai halaman yang menjadi tempat berkantornya perusahaan ekspedisi logistik swasta. Saat dimintai keterangan mengenai gedung tersebut, petugas keamanan di depan gedung pun menghubungi pemilik usaha tersebut.

"Iya saya beli tanah dan bangun itu suratnya memang tertulis Jl. Cikini Raya No. 71, benar pernah [dengar] jadi tempat rapat pemuda [tahun 1945]? Enggak menyangka lho saya, enggak pernah tahu dan baru kali ini saya dengar," ujar pemilik usaha yang enggan disebutkan namanya.

"Kalau enggak salah ini dulu bukannya lahan kosong saja ya?," sambungnya.

Dikonfirmasi lagi terpisah, Rushdy menerangkan Asrama Baperpi itu letak persisnya berada di sebelah Kebun Binatang Cikini kala itu. Kebun Binatang yang sejak 1846 berada di kawasan Cikini itu telah dipindahkan ke kawasan Ragunan, Jakarta Selatan. Sementara itu lahan bekas kebun binatang itu di antaranya kini menjadi kompleks Taman Ismail Marzuki dan sebagian lagi menjadi menjadi bagian dari lahan Rumah Sakit PGI Cikini yang beralamat di Jalan Raden Saleh Raya nomor 40.

“Saat ini asrama itu jadi bank, itu di ujung, sebelum IKJ kan ada gang. Nah, itu persis di samping gang itu dulu [Asrama Baperpi],” ujar Rushdy.

IKJ atau Institut Kesenian Jakarta itu berada di dalam kompleks Taman Ismail Marzuki. Sementara itu, gang yang dimaksudkan berada di sebelahnya adalah Jalan Cikini VIII. Di sebelah jalan Cikini VIII, di seberang TIM, terdapat bangunan yang telah menjadi tempat berkantornya dua bank swasta, dan di sebelahnya lahan yang menjadi bangunan tempat berkantornya perusahaan ekspedisi.

4. Rumah Persinggahan Sukarno-Hatta di Rengasdengklok

Sekitar pukul 04.00, keluarlah mobil dari Cikini 71 yang membawa Chairul Saleh, Sukarni, Kunto, dan Dr Muwardi. Sukarni dan Jusuf Kunto menjemput Hatta di rumahnya, lalu menyusul ke rumah Bung Karno. Sementara itu, Dr Muwardi langsung menuju rumah Bung Karno menunggu kedatangan Sukarni, Jusuf Kunto, Chairul Saleh, dan Bung Hatta.

Dan, mereka pun bergegas keluar kota, Rengasdengklok di Karawanglah yang dituju.

Sejarawan JJ RIzal mengatakan alasan membawa Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok, karena Sukarni dkk merasa harus di tempat yang benar-benar mereka bisa garansi keamananya buat kedua tokoh tersebut.

Di Rengasdengklok, Sukarno-Hatta sempat diamankan dulu di tangsi PETA sebelum dipindahkan ke rumah seorang pedagang China yang berada di pinggir sungai Citarum, Djiauw Kie Siong. Djiauw Kie Siong bersedia rumahnya ditempati Sukarno dan keluarganya serta Hatta untuk sementara waktu.

"Dia siapkan apa yang penting bagi tamu ini, artinya Djiauw Kie Siong ini sudah mengosongkan rumah itu dari keluarganya. Di sana Bung Karno dan Bung Hatta tidak ada kerjaannya. Kerjaannya cuma menimang-timang si Guntur [Soekarnoputra] saja, sehingga ada ceritanya Bung Hatta tidak bisa salat karena celananya dikencingi Guntur," ujar Sejarawan Rushdy Hoesein.

Mengutip dari autobiografinya, Untuk Negeriku, Hatta menjelaskan celanya dibasahi kencing Guntur di dekat lutut. Itulah sebabnya dia tak bisa salat karena celana yang dipakai itu telah dikencingi. Celana yang telah terbasahi kencing Guntur itu dipakainya terus hingga basahnya mengering dengan sendirinya.

‘Aku tidak dapat bersalin celana karena sepotong pakaian pun tidak ada yang kubawa dari Jakarta,’ tulis Hatta.

CNNIndonesia.com menyambangi Rengasdengklok pada 7 Agustus lalu, di sana didapati rumah Djiau Kie Siong itu sudah tak berada lagi di pinggir aliran Sungai Citarum. Seperti dijelaskan Rushdy, rumah tersebut telah digeser dari tempat asalnya oleh sang pemilik karena banjir Citarum pada dekade 1950an.

Berdasarkan penuturan salah satu kerabat keturunan Djiauw Kie Siong, dipilihnya rumah sebagai persinggahan Sukarno dan Hatta itu atas usulan salah satu anggota keluarga tersebut yang kebetulan menjadi bagian dari PETA. Rumah tersebut dipilih karena dinilai cukup layak menampung Sukarno Hatta.

Bangunan rumah kayu dengan daun jendela yang dicat hijau itu disebutkan masih dipertahankan bentuk aslinya. Sebuah gapura dengan tulisan Rumah Sejarah terpasang di depan halaman menuju rumah tersebut. Di dalamnya dipenuhi perabotan kayu yang identik dengan masa 1940an silam. Termasuk pula dua kamar yang sempat digunakan Sukarno dan Hatta. 

Di ruang tamu terpajang foto-foto dwitunggal Proklamator RI, Sukarno dan Hatta, serta Djiauw Kie Siong.

Alasan pemilihan rumah Djiauw Kie Siong untuk menampung pun pernah dipertanyakan Sukarno pada 1945 silam. Itu diungkapkan sang proklamator dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat. Sukarno memeriksa rumah tersebut dan menilai tidak ada yang istimewa dari bangunan itu sehingga ia bertanya kepada seorang letnan yang mengantar mereka ke sana.

‘…”Inilah satu-satunya rumah dekat garnisun yang cukup besar yang bisa menampung rombongan Bung Karno dan …” dengan isyarat kepalanya dia menunjuk ke arah luar. Mengikuti arah pandangnya, aku melihat belasan pemuda sedang berjaga-jaga. Semua memegang senapan dengan sangkur terhunus. Belasan pemuda yang lain berjaga di jalanan,’ ujar Bung Karno dalam biografi yang dituliskan Cindy Adams tersebut.

 

Menyepakati Naskah Proklamasi di Rumah Laksamana Jepang

5. Rumah Laksamana Maeda di Menteng

Sekembalinya Sukarno dan Hatta ke Jakarta usai Sukarni dkk berhasil diyakinkan Ahmad Subardjo pada 16 Agustus 1945 malam, mereka mencoba menghubungi kembali Hotel des Indes agar bisa menggunakan ruang untuk rapat PPKI yang batal dilaksanakan pada pagi harinya.

'Hotel des Indes membalas bahwa lewat pukul 22.00 tidak boleh mengadakan kegiatan apa-apa lagi. Itu sudah menjadi peraturan dari dahulu. Subardjo mengusulkan, bolehkan ia coba menelepon Admiral [Laksamana] Maeda, meminta supaya ia meminjamkan ruang tengah rumahnya untuk rapat itu. Kami persilakan Subardjo menelepon dan Maeda menerima permintaan kami itu dengan segala senang hati,' tulis Hatta dalam autobiografi Untuk Negeriku.

Setelah itu, Hatta pun meminta Subardjo menghubungi anggota-anggota PPKI yang semuanya menginap di Des Indes agar datang ke rumah Maeda pukul 24.00 untuk melanjutkan rapat. Beberapa saat kemudian, dekat pukul 22.00, Sukarno menjemput Hatta di rumahnya yang berada di jalan Syowa Dori (sekarang Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat), lalu bersama-sama menuju rumah Maeda yang berada di Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat.

Diceritakan Hatta setelah mereka berada di rumah Maeda, ia bersama Sukarno ditemani sang laksamana dan juru bahasanya, Miyoshi, mendatangi rumah Sumobuco, Mayjen Nishimura yang jaraknya kurang dari lima menit berkendara mobil. Dalam pertemuan tersebut, kata Hatta, Nishimura tak bisa mengizinkan pelaksanaan rapat karena Jepang dalam status quo harus mematuhi sekutu dan akan melakukan tindakan jika tetap digelar.

'Setelah hampir dua jam kami berdebat di sana dengan tiada mencapai pengertian, Sukarno dan aku mufakat lebih baik meninggalkan rumah Mayor Jenderal Nishimura dan kembali ke rumah Maeda,' tulis Hatta.

Dan, rapat perumusan naskah proklamasi pun digelar di rumah Maeda pada dini hari 17 Agustus 1945. Rumah Maeda itu masih terjaga hingga sekarang dan dijadikan museum. Penetapan rumah Maeda itu sebagai museum dilakukan lewat SK Mendikbud Nomor 0476/1992 tanggal 24 November 1992.

Pada 1945, proses perumusan, pengetikan, hingga rapat untuk proklamasi RI itu digelar di lantai dasar rumah tersebut. Setidaknya ada empat ruang yang terkait dengan sejarah perjalanan bangsa Indonesia di rumah tersebut yakni ruang tamu atau pertemuan, ruang makan yang menjadi tempat perumusan naskah, ruang pengetikan, dan ruang pengesahan.

Di ruang pengesahan, sebuah piano yang menjadi alas saat Sukarno dan Hatta membubuhkan tanda tangan atas nama rakyat Indonesia pun tak digeser dari posisinya di samping tangga menuju lantai atas, depan ruang Sayuti Melik mengetikkan naskah dari tulisan tangan Sukarno.

Sebagai museum, rumah Maeda terbilang sangat terawat dan terjaga sebagai tempat bersejarah bagi bangsa Indonesia. 

"Tentu semua dirawat sama pengurus, karena merupakan aset yang bersejarah, kondisi bangunan juga pastinya terus dijaga dari dulu hingga sekarang,” ujar salah satu penjaga museum, Iman Nurrochman kepada CNNIndonesia.com saat berkunjung, Kamis (8/8).

Kala itu, museum tersebut sudah hampir tutup, dimana jam bukanya adalah mulai pukul 08.00-16.00 saban harinya, kecuali Senin dan hari libur nasional yang akan ditutup.

6. Rumah Sukarno di Pegangsaan 56

Akhirnya rapat di rumah Laksamana Maeda berakhir dengan disepakatinya akan dibacakan Proklamasi RI secara terbuka di teras rumah Sukarno, Jalan Pegangsaan Timur nomor 56, Jakarta Pusat.

Pada dini hari 17 Agustus 1945, kabar akan dibacakannya Proklamasi Kemerdekaan RI itu disampaikan para pemuda pejuang dengan sigap. Bung Karno menggambarkan setiap orang bergerak ke sana kemari, tanpa ada yang mengomandoi. Mereka menyebarkan berita melalui telepon, naik sepeda, mengetuk pintu dari rumah ke rumah atau berteriak di jalan.

Tak hanya itu, sambung Sukarno, sekelompok mahasiswa memimnajm mesin stensil dari kantor-kantor Jepang tempat mereka bekerja dan begadang sepanjang malam untuk memperpbanya selebaran yang sederhana. Di pagi harinya, mereka mencuri truk kecil untuk berekeliling menempelkan selebaran di pagar, menyelipkan di jendela kereta api dan pintu rumah-rumah.

‘Pukul tujuh pagi, sekitar seratus orang atau lebih, berkumpul di depan jendelaku. Mereka datang berbondong-bondong membawa bambu runcing, batu, sekop, tongkat, parat atau golok, dan apa saja yang dapat mereka bawa. Pesan sudah tersebar bahwa Bung Karno akan menyatkaan kemerdekaan. Kita harus melindungi Bung Karno. Petani, pedagang kelontong, nelayan, pegawai negeri, anak-anak muda dan orang tua, semua orang mengalir ke Pegangsaan Timur 56,’ ujar Sukarno dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat.

Proklamasi akhirnya dibacakan pukul 10.00 WIB di teras depan kediaman Bung Karno tersebut, yang lalu disambung dengan pengibaran bendera pusaka Sang Merah Putih. Bendera yang dijahit istri Sukarno, Famawati, itu dikibarkan ke atas tiang lewat kerja sama tiga orang: Suhud Sastro Kusumo, Latief Hendraningrat, dan SK Trimurti.

Mengunjungi Jalan Pegangsaan Timur nomor 56, Jakarta Pusat, tak dapat lagi ditemui rumah Sukarno dan teras serta halamannya yang bersejarah bagi Bangsa Indonesia itu. Pada 1962, Bung Karno membongkar kediaman pribadinya tersebut

'Rumah proklamasi dibongkar atas perintah Soekarno,' tulis Adolf Heuken dalam buku Medan Merdeka-Jantung Ibukota RI (2008).

Sejarawan JJ Rizal mengatakan Rumah Bung Karno dihancurkan sendiri saat ia berkuasa dengan alasan melawan kecenderungan feodalisme, dan Indonesia harus dipimpin ide.

"Jadi rumahnya dijadikan gedung pola, pola itu rencana, rencana itu basisnya ide. Itu bung karno sendri yang menghancurkan," kata Rizal saat disambangi, Sabtu (10/8).

Secara terpisah, Sejarawan Rushdy Hoesein menolak menduga alasan pembongkaran rumah tersebut dan menilai hanya Bung Karno yang tahu maksudnya.

Kini, di lokasi itu berdiri Monumen proklamasi yang dikelilingi Taman Proklamator. Sementara itu, jalan di depannya berubah nama jadi Jalan Proklamasi. Selain itu, dibangun pula di sana bangunan yang bernama Gedung Proklamasi, kini Gedung Perintis Kemerdekaan yang beralamat Jalan Proklamasi nomor 56.

Di kawasan monumen proklamasi atau tugu proklamasi berdiri patung Bung Karno dan Bung Hatta serta Naskah Pancasila di antara keduanya. Juga terdapat tugu petir, dan tugu perempuan. Tugu perempuan itu adalah monumen peringatan satu tahun kemerdekaan Republik Indonesia dari kaum wanita.

Saat CNNIndonesia.com berkunjung pekan lalu, kawasan tersebut sedang dipercantik dan dirawat untuk memperingati hari peringatan Proklamasi, 17 Agustus 2019.

Seluruh masyarakat dapat mengakses Tugu tersebut, karena memang dibuka secara gratis dan umum hingga jam 21.00 WIB. Monumen tersebut kini terus dijaga oleh tim penjaga kompleks tugu proklamasi, serta beberapa komunitas, dan warga.

"Sering juga ada warga yang datang untuk ngumpulin sampah, bantu bersih - bersih," ujar Wahidin, salah satu penjaga di sana pada 8 Agustus lalu.

Rusdy Hoesein mengatakan para pemerhati sejarah di Indonesia berharap rumah yang telah dibongkar Sukarno pada 1964 itu bisa dibangun kembali. Saat ini, sambungnya, warga masih bisa menemukan fondasi rumah tersebut. Namun, tak ada presiden RI yang selama ini menyetujui pembangunan kembali rumah itu, termasuk pula Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri yang merupakan anak kandung sang proklamator.

"Rumah itu tetap sebagai kenangan. Habis Pak Harto, Habibie enggak setuju, Gus Dur enggak setuju, Megawati enggak setuju, dan SBY timbang-timbang akhirnya tidak setuju, Jokowi pun tidak setuju," ujar Rusdy seraya mengaku tak tahu alasan dari ketidaksetujuan tersebut, Senin (12/8).

"Mereka lebih setuju merayakan kemerdekaan di istana kolonial. Istana Merdeka itu kan istana kolonial. Masak kita mesti mewarisi nilainya kolonialisme, ketika orang menghormati rumahnya. Proklamasi dirayakan mestinya secara tetap di situ [rumah Bung Karno] setiap tahun, siapa yang ingat? enggak ada yang ingat. mungkin pertanda bahwasanya kita sudah lupa kepada peristiwa sejarah," sambungnya.

 


(ara/gst/agr)/cnnindonesia.com

KOMENTAR DISQUS :

Top