Selasa, 15 Oktober 2019 |
Jurnal Publik - Suaro Wargo

Irwan Hadi Syamsu: Pilgub Jambi Hati-hati Mobokrasi

Sabtu, 27 Juli 2019 13:04:27 wib

JAMBIDAILY JURNAL - Jika mengkaji Pemilihan Gubernur Jambi dari segi waktu pelaksanaan Tentu masih jauh Namun layaknya perang -jika boleh disebut begitu-, masing-masing kandidat sudah bermunculan menarik simpati masyarakat sebagai artikulasi kemenangan dalam sistem Demokrasi. Kemenangan inilah (yang sering disebut kemenangan rakyat) yang menjadikan mereka penguasa bukan rakyat.

Beberapa figur kuat (atau mengaku kuat) mulai bergerilya ke belantara, semacam ingin menunjukkan kepedulian terhadap suaka yang berkoloni didalamnya. Berbagai hal yang dikira mampu menaikkan keterpilihan, di ekspos setiap saat layaknya warna biru pada lukisan-lukisan Van Gogh (Tidak istimewa, tapi selalu ada).

Yaaah, meskipun tidak istimewa, bisa saja warna biru itu menjadi sangat dominan, persis salah satu lukisan Van Gogh yang berjudul “The Starry Night”.

Kepiawaian memutar roda birokrasi karena telah beruntun menjadi kepala daerah, empati kepada rakyat kecil karena berasal dari keluarga berpenghasilan pas-pasan, paham betul soal pembangunan karena berhasil mempercantik wajah kota, semua seakan digemakan agar masyarakat mendengar, lalu terpesona. 

Sebutlah mereka -para bakal calon- memang mempesona, tapi tentu kita lebih paham siapa yang akan berkuasa atas rakyat, atau merakyat sebagai penguasa.  Demokrasi memang selalu akan memuat berbagai cerita, entah fiksi atau fakta, entah benar atau hipokritas semata.

Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan tentu untuk rakyat. Setidaknya itulah pendapat Abraham Lincoln tentang demokrasi. Pada praktiknya, pendapat tersebutlah yang menjadi pijakan para elit untuk memuluskan kandidasi sosok yang mereka munculkan. 

Macam strategi diluncurkan, asal masyarakat percaya bahwa sosok yang diusung adalah orang paling tepat (Seperti Hayam Wuruk untuk Majapahit) untuk dipilih. Tapi kemudian sebuah pertanyaan muncul, apakah sebenarnya hal yang hampir paling pasti yang akan terjadi setelah perang selesai?. 

Jawabnya adalah: Ambil harta rampasan dan bagi – bagi wilayah kekuasaan. Inilah awal petaka yang telah dialami banyak negara yang tentu telah terekam sebagai memoar sejarah. 

Mobokrasi, sebuah istilah dalam demokrasi yang jarang dibahas, namun menyimpan rekaman luka banyak bangsa. Meskipun bagian dari demokrasi, namun Mobokrasi memiliki makna yang sangat kontradiktif dengan demokrasi.

Mobokrasi dan demokrasi harus dipahami secara berbeda. Jika demokrasi adalah sistem pemerintahan yang memusatkan kekuatan utama pada publik, maka mobokrasi adalah pemerintahan yang dikendalikan oleh segerombolan orang yang menerapkan kontrol dan tekanan terhadap publik. 

Pada dasarnya mobokrasi berasal dari kata mob yang berarti ‘massa’ atau gerombolan orang yang tidak teratur. Mobokrasi secara sederhana bisa diartikan sebagai pemerintahan yang diselenggarakan dan dilaksanakan oleh massa atau segerombolan orang yang tidak paham seluk beluk pemerintahan.

Mobokrasi cenderung membawa pemerintahan dan negara dekat dengan kekacauan sebab biasanya Mobokrasi selalu menayangkan opera yang menampilkan pemimpin yang berbuat seenaknya, melawan kekuatan hukum dan kebiasaan, serta kongkalikong dengan elit-elit pendukungnya serta diiringi lagu Symphony of Sorrowful Songs karya Henryk Gorecki.

Mobokrasi yang pada jaman kuno lebih dikenal sebagai okholokrasi, telah menjadi saksi sejarah pecahnya Makedonia setelah Alexander Agung (336-325 SM) menaklukkan sebagian Eropa dan Asia lalu membagi – bagikan kepada para komandan pasukan dan prajuritnya. 

Begitu juga dengan Gengis Khan dari kekaisaran Mongol (1162-1227 M) yang seringkali membagikan daerah kekuasaannya kepada para pengikutnya. Mobokrasi terjadi sebab bangsa Mongol adalah pengembara dan tidak memahami negara. Lalu kenapa Mobokrasi menjadi hal yang layak untuk ditakuti setelah terjadinya pemilihan gubernur dan terpilih seorang pemenang?

Ternyata, Mobokrasi telah pernah menggerogoti tubuh Provinsi Jambi. Sebab Mobokrasi kita kehilangan gubernur terpilih, sebab Mobokrasi sang wakil naik kursi, dan berpotensi menjadi gubernur sendiri, tanpa wakil sampai akhir. 

Demokrasi kita cedera, sebab pemenang ditentukan melalui kerupawanan, bukan kemampuan. Demokrasi kita terluka, sebab pemenang berbagi kekuasaan dengan kelompok yang tidak paham pemerintahan, hanya kekuasaan. 

Kemana Jambi Akan Dibawa?
Layaknya kendaraan, sebuah negara atau daerah dikendarai oleh pemimpinnya. Maju atau mundur, ke kiri atau ke kanan, semua tergantung pengendara. Sedangkan kita rakyat jelata, hanya penumpang yang jika ketakutan boleh saja teriak, tapi mau melakukan apapun pengendara tetap punya hak.

Maka, sebelumnya tentu kita telah menimbang matang – matang, siapa yang layak mengemudikan kendaraan agar kita sampai ke tujuan. Kita berharap mempunyai gubernur yang benar-benar peduli pada rakyatnya, tidak pura-pura peduli seperti Sengkuni kepada Puntadewa dan adik-adiknya, padahal ingin membakarnya dalam bale sigala-gala.

Pemilihan Gubernur masih lama, sementara itu kita bisa menyeleksi yang terbaik. Mengutip pernyataan John Adams, filsuf dan presiden kedua Amerika Serikat: “Remember, democracy never lasts long. It soon wastes, exhausts, and murders itself. There never was a democracy yet that did not commit suicide”. 

Namun, sepertinya di Indonesia, lebih khusus Jambi, kenyataan itu berbeda. Demokrasi bukan bunuh diri, melainkan dibunuh oleh orang – orang bertopeng Demokrasi, wajah aslinya Mobokrasi.

Saya ingin membawa kita semua ke dalam sabda Rasulullah Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Adz-Dzahabi, “Akan tiba satu waktu kepada umatku penguasanya seperti singa, para menterinya seperti serigala, dan hakim-hakimnya seperti anjing. Sementara itu umat kebanyakan bagaikan kambing. Bagaimana bisa kambing hidup diantara singa, serigala dan anjing?”

Bukan, ini bukan provokasi!  Tapi, tentu kita akan jadi kambing, jika memilih pemimpin seperti singa.


*Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas Jambi dan Aktivis PMII

 

 

...

*isi/sumber/referensi dari Artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis.

KOMENTAR DISQUS :

Top