Jumat, 23 Agustus 2019 |
Jurnal Publik - Suaro Wargo

Catatan Kaki: TBJ Masih (Sudah) 'Dipandang Sebelah Mata'

Senin, 05 Agustus 2019 11:58:57 wib

Oleh: Hendry Nursal

JAMBIDAILY JURNAL - Taman Budaya Jambi (TBJ) terletak di Jalan Sei Arbai I Kecamatan Telanaipura Kota Jambi, sebagai UPTD Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jambi, sudah selayaknya adalah laboratorium di dunia seni dan budaya namun juga berperan sebagai toko, sebagai etalase hasil karya dari para penggiat seni di provinsi Jambi.

Disini bukan hanya untuk Kota Jambi sebagai pusat provinsi, juga bagi 9 kabupaten dan 1 kota lainnya. Tidak ada perbedaan bagi masing-masing genre seni yang kini semakin banyak bertransformasi bahkan melahirkan 'mutan-mutan' baru dalam kesenian karena pengaruh moderen, pengaruh teknologi, pengaruh arus westernisasi dan pengaruh lainnya.

TBJ membuka diri seluas-luasnya, memberikan ruang besar bagi seniman untuk unjuk karya tanpa lintas batas karena disini tempat mengolah termasuk etalase yang dapat disaksikan oleh khalayak ramai. Menariknya masih saja ada nada-nada dan suara sumbang terdengar, seakan eksklusif hanya pada komunitas, hanya pada personal, hanya genre seni tertentu saja. Dianggap tidak merangkul, tidak memberikan wadah berekspresi. Tentunya timbul pertanyaan, TBJ yang seperti itu atau suara-suara sumbang itu tidak punya kemampuan berkarya,?

Kalaupun menempatkan sebagai pengkritik, tentunya akan sangat berarti karena berguna bagi tumbuh kembangnya TBJ menuju lebih baik lagi, kalau sebagai penghujat, hanyalah melahirkan pembunuhan karakter, melemahkan juga sangat mungkin menjatuhkan, segala upaya masih terus dilakukan TBJ dapat terus bertahan berada dalam posisi termasuk porsinya.

Tidak hanya itu, timbul kata TBJ berbuat karena ada anggaran atau dananya. Lantas haruskah para pekerja di TBJ menjual harta pribadinya, menggadaikan sertifikat rumah, SK PNS, berhutang dengan tetangga,? Ada lagi kata, TBJ memanfaatkan seniman non kompensasi sementara ada kemungkinan itu dijadikan laporan lalu cairlah anggaran yang tidak sampai kepada seniman,? tuduhan keras tanpa dasar, tuduhan yang jauh dari sosok penggiat seni, sang pemilik kelembutan rasa dan kelembutan jiwa.

Semua bermuara dari komunikasi, tentunya saat akan menampilkan karya di TBJ itu semua dapat ditanyakan secara jelas, apakah dapat masuk dalam agenda yang ada kompensasi atau non kompensasi. Sangatlah tidak bijak hanya bercerita dalam kelompok-kelompok kecil, pada akhirnya membesar dan sampai pada apresiator. Efeknya,? silahkan pikirkan sendiri.

Ada personal tertentu merasa kurang mengena di rasa dan hati, kalau itu hal yang wajar. Pada hakikatnya karya seni bicara nurani, bicara jiwa, bicara bahasa insan bukanlah untuk dihakimi, bukan untuk dibandingkan dan harus dipaksakan berada di tempat tertentu. Karya bisa lahir serta tumbuh besar dimana saja, jika itu menjadi sebab musabab, itu merupakan jatidiri senimannya, jelas prinsip dan wibawanya sebagai seniman, dia tetap berbuat, berkarya dimanapun. Sementara yang hanya suara sumbang saja,? 

TBJ adalah UPTD dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jambi, sangat jelas memiliki jalur kerja sesuai aturan berlaku termasuk arahan dan kunci keputusan di tangan Disbudpar. Selaku seniman dan budayawan, ada peran besar yang dipikul untuk dapat memberikan edukasi bagi generasi penerus, mesin-mesin moderenisasi mulai menggerus secara perlahan menghabisi rasa dan keinginan mereka dalam mencintai kekayaan seni budaya asli daerahnya, inilah peran besar sosok personal berlabel seniman bagi keselamatan generasi dari pengaruh buruk. Label tersebut bukan hanya penghias nama dalam undangan pernikahan atau daftar kesombongan semata.

Sangat miris, saat ini masih ada saja seniman sibuk menepuk dada ke AKU-annya. Apalagi ada pula terlihat yang Berkebun Dipunggung Seniman,? bagian ini penulis enggan berkomentar, penggiat seni berpikirlah...

Betul, seniman itu saat menghasilkan karya serta dapat dinikmati khalayak ramai dapat memberikan kepuasan dan meredakan dahaga bathinnya namun butuh juga kepuasan lahiriah. Sampai disini perlu adanya persamaan persepsi, persamaan misi, persamaan harapan agar dapat menampung tumpahan kekesalan yang terkadang diluar logika berkesenian.

Ditengah tantangan tersebut, TBJ berupaya terus berada di jalur lintasan rel yang telah terbentang untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sebagaimana Peraturan Daerah Nomor 15 Tahun 2002
1. Pelaksanaan kegiatan laboratorium berupa penelitian, revitalisasi, pengolahan dan eksperimentasi
2. Pelatihan dan bimbingan
3. Pelaksanaan pameran dan pergelaran seni budaya
4. Pelaksanaan festival, lomba dan sayembara seni budaya
5. Pelaksanaan ceramah, sarasehan, lokakarya, workshop, diskusi, seminar dan temu kerja
6. Pelaksanaan dokumentasi, perpustakaan budaya, informasi seni, promosi dan sosialisasi
7. Pelaksanaan urusan Tata Usaha dan Rumah Tangga Taman Budaya Jambi

Supaya lebih kenal, ada baiknya kita lihat sejarah singkat Taman Budaya Jambi, Berdasarkan catatan matramantra.wordpress.com, TBJ berdiri Setelah dilakukan kajian secara seksama oleh Dirjen Kebudayaan RI maka pada tanggal 23 Januari 1992 berdirilah Taman Budaya Provinsi Jambi berdasarkan Surat Keputusan Mendikbud RI Nomor: 061/O/1992 tanggal 23 Januari 1992 bersamaan dengan Taman Budaya Provinsi Kalimantan Tengah dan  Taman Budaya Provinsi Sulawesi Tenggara. Sebagai Unit Pelaksana Teknis Kebudayaan di Provinsi Jambi dengan type C, Taman Budaya Jambi bertanggung jawab secara teknis kepada Direktur Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan RI dan secara administratif bertanggung jawab kepada Kanwil Depdikbud Provinsi Jambi.

Sejak berdirinya Taman Budaya Jambi tanggal 23 Januari 1992 sampai dengan tanggal 1 Maret 1993, pejabat sementara Kepala Taman Budaya Jambi dirangkap oleh Kepala Bidang Kesenian Depdikbud Provinsi Jambi, Bapak Drs. Dasril Syam. Kemudian pada tanggal 1 Maret 1993, secara defenitif Kepala Taman Budaya Jambi dijabat oleh Bapak Drs. Ja’far sampai dengan tahun 2001.

Seiring dengan adanya reformasi dipemerintahan pusat, dimana setiap provinsi menginginkan Otonomi Daerah, maka kedudukan Taman Budaya Jambi yang menjadi kewenangan pemerintah pusat diserahkan kepada Pemerintah Daerah Provinsi Jambi. Kedudukan Taman Budaya Jambi sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Kebudayaan Depdikbud RI, berubah menjadi Unit Pelaksana Teknis Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi seperti yang tertuang dalam Peraturan Daerah Provinsi Jambi. Nomor 15 Tahun 2002.

Pada masa peralihan dari pusat ke daerah, Taman Budaya Jambi sempat mengalami stagnasi selama 3 tahun karena sturuktur organisasi dan pejabatnya belum ada. Agar Taman Budaya Jambi tetap berjalan sebagai Unit Pelaksana Teknis, maka sementara waktu ditunjuk seorang pelaksana tugas untuk menjalankan tugas pokok dan fungsi Taman Budaya Jambi, yaitu Saudara Rd. Rizal mantan Kasubag TU dengan tetap berpedoman pada tupoksi lama. Sedangkan penganggarannya menyatu dengan anggaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi.

Taman Budaya Jambi dapat berfungsi kembali setelah ditetapkannya struktur organisasi dan pejabatnya pada tahun 2004 dengan Surat Keputusan Gubernur Jambi Nomor 821.23/76/UP terdiri dari 1 orang kepala (Aken Pur a, SE) , 1 orang Kasubag TU (dra. Eka Feriani) dan 3 orang Kasi, yaitu Kasi Peningkatan Mutu (Didin Sirojudin), Kasi Pemeliharaan (Jefri Akhyar Desyanto), serta Kasi Penyajian dan Penyebarluasan Informasi (Fuzi Z).

Pada tahun 2009 kembali terjadi perubahan struktur organisasi Taman Budaya Jambi berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 41 tahun 2008. dengan struktur Organisasi terdiri dari 1 orang Kepala, 1 orang Kasubag TU dan 2 orang Kasi, yaitu Kasi Pelestarian dan Pengembangan dan Kasi Penyajian dan Penyebaran Informasi.

Adapun pejabat yang pernah duduk sebagai Kepala Taman Budaya Jambi hingga sekarang, yaitu:
Drs. Ja’far (1993 s.d 2001)
Aken Purba, SE (2004 s.d 2006)
Dra. Eka Feriani (2006 s.d 2009)
Drs. Ja’far (2009 s.d 2011)
Drs. Sudjarko, MM (2012 s.d 2013)
Dr. Sri Purnama Syam, S.ST (2013 s.d 2016)
Didin Sirojudin, S.Sn (2016 s.d Sekarang)

Dari ulasan sejarah tersebut setiap kepemimpinan memiliki cara, strategi, dan gaya tersendiri dalam membawa laboratorium ini agar dapat terus menunjukan eksistensinya. Tetapi tidak hanya sekedar eksis atau hanya ada saja namun juga menghasilkan sebuah peristiwa seni budaya yang diharapkan mampu monumental dan menjadi catatan.

Tidak sedikit kegiatan besar tersaji, baik itu dalam area Se-kota Jambi, Se-Provinsi, Se-Sumatera bahkan Level Nasional pernah sukses diramu oleh tangan-tangan pekerja keras TBJ. Selain itu, pengolahan para penggiat seni yang mampu menghadirkan hidangan menarik bagi penikmat, penggiat dan penonton umum di TBJ. Lantas kenapa masih saja dipandang sebelah mata, atau ini hanya ke-BAPER-an penulis saja,?

Sejak Februari 1999 Penulis mulai mengenal Taman Budaya Jambi, tempat asing yang baru diketahui dan beribu pertanyaan timbul karena nama yang baru dikenal. Dalam perjalanan waktu, tidak hanya terlibat sebagai pengunjung atau penonton saja tetapi pada akhirnya mencintai sehingga berada di posisi penggiat atau pelaku seni, walaupun bukan berlebel seniman.

Dimasa awal-awal, TBJ menjadi sesuatu yang luar biasa 'angker' karena tidak sedikit tulisan pedas dan kritikan terpampang di media massa kala itu saat adanya karya kreatif, saat seusainya sebuah pertunjukan seperti Teater, pameran seni rupa atau apapun itu kegiatan seni, sehingga TBJ lumayan diketahui khalayak provinsi Jambi, padahal media massa masih sangat sedikit. Entah mengapa semakin berjalannya waktu, semakin tak terdengar, semakin minim informasi yang mampu menjangkau masyarakat di Jambi, padahal ada puluhan media cetak harian dan mingguan, juga radio, tidak sedikit Televisi lokal bahkan lebih dari 50-an Media Siber.

Apakah adanya kemunduran karya dari para seniman,? sehingga para penggiat media tidak tertarik, atau memang TBJ tidak memiliki kekuatan dalam hal promosi atau mungkin diperparah dengan Disbudpar yang terkesan kurang bertenaga untuk menyokong promosi aktivitas seni budaya di TBJ,?

Jika mengatakan adanya kemunduran karya atau sepinya kegiatan, tentulah jauh dari fakta yang terjadi. Buktinya terbaru Rentang April-Agustus 2019 tak sedikit kegiatan seperti Workshop Seni Rupa, Tari, Teater, Musik dan Karikatur, lalu ada lomba Mural, Pameran Seni Rupa, ditambah Temu Teater Se-Sumatera, berikutnya juga akan ada Festival Teater Remaja, sebelumnya juga komunitas seni Teater yang hadir dari berbagai provinsi.

Saat Temu Teater Se-Sumatera, 2-4 Agutus 2019 Hampir 3000 orang menonton pergelaran 9 komunitas Teater dari 8 Provinsi di pulau Sumatera, jumlah itu belum termasuk yang hadir menimati pameran Seni Rupa Palembang, Lampung, Jambi, Bengkulu (PALEMJAMBE) 1-10 Agustus 2019, juga menyaksikan aksi-aksi peserta Lomba Mural, melumat Dinding pagar yang saat ini begitu cantik dan indahnya disisi kiri kompleks TBJ, sekarang dinanti kepedulian Disbudpar Provinsi Jambi agar karya Mural dapat terus dinikmati dan nyaman jika terpasang konblock bagian lantai.

Jika mengatakan media massa tidak tertarik untuk mengabadikan lewat tulisan, rasanya juga bukanlah alasan karena bisa saja ada hal-hal tertentu yang membenturkan sehingga tidak agresif saat adanya kegiatan seni budaya di masa-masa kini. Namun semua akan menjadi alasan pasti ketika menjadi benar bahwa masih minimnya pengetahuan para media tentang seni budaya,? tapi itu permasalahan sisi terkecil, yang besar adalah mengapa Disbudpar tidak menyebarkan promosi lebih luas.

Jangan ada kesan hanya menunggu kegiatan dihadiri oleh Pemimpin Tertinggi di Provinsi Jambi, barulah mendapat pemberitaan yang ramai. Simbiosis Mutualisme dibutuhkan pada praktek ini, sebab adanya suatu interaksi antara dua makhluk hidup yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Bukankah begitu,?

Tidak mempunyai hak siapapun untuk menyalahkan faktor-faktor tadi, tetapi bolehlah kritikan disampaikan, termasuk pada Dinas Kebudayaan Pariwisata Provinsi Jambi. Ada harapan Instansi ini tidak hanya menjadi 'BOS' tetapi 'Pemimpin', sebagai Pilot, sebagai masinis, sebagai Kapten membawa arah kemajuan dari segala sisi. 

Peralatan Laboratorium butuh pembaharuan, terlalu tua sudah umurnya, ada keretakan tabung cairan-cairan dan gas kimia yang dapat berbahaya menjadi racun. Sedangkan etalase sebagai tempat pajangan kini tampak berdebu, pembeli mulai tidak berminat dengan tampilan kusam. 

Berdagang hanya menantikan pembeli datang,? Disbudpar coba membuka mata dan melek dengan kondisi terkini, saat ini anda sambil BAB di kamar mandi saja bisa pesan makanan dan melihat pakaian-pakaian cantik hanya lewat 'gadget'. Kini pasar-pasar tradisional saja sudah bermutasi menjadi kios-kios moderen, itu untuk apa,? untuk memberikan hal lebih bagi pembeli. Sudah selayaknya, seni budaya yang merupakan pakaian bagi jatidiri bangsa umumnya dan jatidiri Jambi khususnya, juga seperti itu.

Jangan ada kesan, fokus pengembangan berat sebelah yaitu ariwisata saja, sementara seni dan budaya menjadi nomor kesekian, Bukankah saat menghadiri secara nasional bahkan internasional yang dibawa adalah seni dan budaya, sementara pantai tidak sanggup kita bawa dan pindahkan dari tempatnya, hanyalah foto bukan,? Penulis tidak mengatakan seni budaya lebih utama, tetapi harapan dapat seimbang dalam perlakuannya.

Rencana besar dengan pemikiran besar, dikerjakan secara besar, kalau kecil tindakan untuk menjualnya itu semua berakhir biasa-biasa saja. Sangat terjawab apa yang menjadi pertanyaan diatas.


*Penulis: Penggiat Teater dan wartawan

 

 

 

 

 

Berita Terkait:

KOMENTAR DISQUS :

Top