Selasa, 15 Oktober 2019 |
Nasional

BI Tegaskan Ekonomi Global Belum Krisis

Jumat, 09 Agustus 2019 21:47:15 wib
Destry meyakinkan ekonomi global belum pada tahap krisis. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma).

JAMBIDAILY NASIONAL - Bank Indonesia (BI) menegaskan perekonomian global saat ini belum memasuki fase krisis. Peluang terkereknya pertumbuhan ekonomi dunia terbuka mengingat bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserves (The Fed) telah memberikan sinyal untuk melanjutkan penurunan suku bunganya.

"Jika itu (penurunan suku bunga The Fed) terjadi, The Fed akan menjadi motor (ekonomi global) dan pengaruhnya akan terasa ke (ekonomi) domestik," ujar Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti di Jakarta, Jumat (9/8).

Meski tumbuh melambat, kondisi ekonomi saat ini berbeda dengan awal mulai krisis ekonomi global pada satu dekade silam. Kala itu, sektor keuangan memompa pembiayaan dan derivatif yang cukup besar. Buntutnya, terjadi kegagalan likuiditas.

Sementara, saat ini, masalah perekonomian berfokus pada 'byar pet' aliran modal masuk karena perang dagang yang diserukan AS. Progres penyelesaian perang dagang yang maju mundur memicu ketidakpastian yang mempengaruhi persepsi investor.

Sebenarnya, sambung ia, negosiasi dagang antara kedua negara sempat membaik setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping melakukan rekonsiliasi di sela-sela pertemuan G20 di Jepang pada Juni lalu. Tak diduga, pekan lalu, AS malah mengancam akan mengerek tarif impor sebesar 10 persen bagi produk China senilai US$300 miliar. 

Lalu, China membalas lagi dengan melemahkan yuan. Jika yuan terdepresiasi terhadap dolar AS, barang ekspor China menjadi relatif lebih murah. 

"Mungkin kami tidak ngomong soal krisis karena kondisinya berbeda. Tetapi, kami harus waspada dengan kondisi global ini," tuturnya.

Perang dagang, sambungnya, juga menjadi faktor yang membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terombang-ambing. Padahal, kata Destry, fundamental mata uang tidak memiliki masalah apapun. Buktinya, saat ini arus modal asing ke Indonesia masih cukup baik. 

Data BI menunjukkan, dari awal tahun hingga 8 Agustus lalu, aliran modal asing masuk bersih mencapai Rp179,6 triliun. Namun, ketergantungan dengan arus modal masuk justru bikin stabilitas ekonomi cukup rentan.

Menurut Destry, risiko ketidakpastian perang dagang sejatinya bisa ditekan jika pendalaman pasar keuangan domestik juga mumpuni. Masalahnya, sektor keuangan domestik terbilang dangkal. 

"Karena sektor keuangan domestik yang dangkal, ketika ada risk aversion (penghindaran risiko) dari investor, yield (imbal hasil) surat utang naik dan rupiah bergejolak. Sebaliknya, jika inflow masuk, saham langsung melejit, rupiah menguat. Ini yang menjadi tantangan bagi stabilitas di sektor keuangan," paparnya.

Selaku otoritas moneter, Destry menilai BI telah melakukan berbagai langkah stabilisasi, utamanya dari segi nilai tukar. Untungnya, salah satu kebijakan yakni transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) cukup direspons positif di pasar valas.

Sebagai catatan, DNDF adalah transaksi jual-beli valuta asing dengan kontrak jangka waktu tertentu yang terjadi di pasar valas domestik. 

Dengan kata lain, masyarakat bisa menjual valas pada satu waktu, di mana valas itu kemudian bisa dibeli kembali di masa depan sesuai tingkat harga yang berlaku di dalam kontrak.

Tak hanya itu, pelonggaran kebijakan moneter seperti penurunan suku bunga acuan 25 basis poin bulan lalu dan penurunan rasio Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 50 basis poin diharapkan bisa memasok likuiditas. Hal ini diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih baik.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi domestik pada kuartal II 2019 sebesar 5,05 persen secara tahunan (year-on-year). Realisasi itu lebih rendah dari kuartal I 2019 5,07 persen dan di bawah periode yang sama tahun lalu, 5,27 persen.


(glh/sfr)/cnnindonesia.com)

KOMENTAR DISQUS :

Top